Saturday, October 22, 2005

awalnya, kepercayaan saya belum tumbuh, secarik stiker merah tak menarik. ahh, hanya tempelan. tak ada maksud mungkin.
lewat seretan tak sengaja di jalan , siraman hujan hutan tropis karena tersesat saat membuka jalur, bahkan bantingan sekeras pejudo olimpiade, ternyata si pemilik stiker penanda itu tetap tegar. membuat saya yakin sampai hari ini.



tetap menjadi teman setia saya di segala keadaan...

Thursday, October 20, 2005


within the national park



Seorang bapak tua bertanya kepada teman seperminuman kopinya di sebuah warung tegal. Sambil meminum air hitam yang hanya dieseduh air panas yang dimasak tadi pagi, 'mana mungkin seorang antek pemda seperti itu punya hak buat nongkrong diatas tanah kita, wong tanah ini sudah lama pake buat beranak cucu'. Tanpa menunggu lebaran kawan bapak tadi menanggapi, ' lah kan kita udah ngasi uang persekot tiap bulan, mana mungkin juga mereka berbuat seenaknya disini pak..' Mungkin percakapan seperti ini sudah biasa kita dengar di radio-radio kelas dua di ibukota, di pasar tradisional dan disemua sudut kota yang disebut Sosiolog sebagai slum area. Lirik musik dangdut yang provokatif tentang kemiskinan, derita ibu rumah tangga karena bang Toyyib tak pulang-pulang ; Menenggelamkan semangat pagi orang-orang yang naik kereta kelas 3 setiap hari...arrgghh, tolong jangan dinyanyikan.

Perebutan hak tanah bukan hanya terjadi di kota-kota besar saja. Warga Kasepuhan Cibedug misalnya. Masyarakat yang tenteram, berbudaya, menjaga alam sekitarnya dengan penuh bakti demi menyenangkan nenek moyang mereka. Sebuah kompleks bangunan Megalithik yang mereka sebut Karamat (Tempat pemujaan, zaman batu besar) dijaga dengan ritual yang mereka jalani sampai sekarang. Mereka sudah tinggal di Wewengkon Cibedug sejak tentara Jepang dianggap Asia sebagai pahlawan pembasmi kolonialisme. Tak beda dengan suku Baduy, masyarakat kesepuhan Cibedug juga mempunyai semua persayaratan sehingga disebut masyarakat adat (PERMEN Agraria no5/1999). tidak ada salahnya mereka menetap didaerah mereka sendiri. Hope so...

Semenjak wilayah hidup mereka ditetapkan sebagai Taman Nasional Halimun, tak lama saat Indonesia menetapkan diri sebagai obyek wisata terbesar di Asia Tenggara; masih ingat tag line 'VISIT INDONESIA 1991' ? Masyarakat Kasepuhan Cibedug terancam DIUSIR!!! Dianggap sebagai perambah hutan dan masyarakat ilegal. Padahal mereka sudah menjalani tugas mulia, mendirikan sekolah PEMERINTAH ditanah nenek moyang mereka. Oleh pemerintah semua itu disiapkan untuk kepentingan adu domba. Sebagai gantinya mereka harus tetap menyerahkan 25% dari hasil pertanian mereka kepada penjaga Hutan Nasional. Ancaman pengusiran tetap berlaku seiring panen padi...

Kisah hidup manusia di garis-garis perbatasan Taman Nasional. Terjepit berbagai kepentingan, Sebuah masyarakat dipaksa melupakan masa lalunya, ditarik dari akar hidup mereka, dipaksa melupakan nenek moyangnya. Tak diakui keberadaanya,Terancam di relokasi entah kemana....we'll see and try to protect our cultural resources...!